Minggu, 22 November 2015

MANUSIA INDONESIA (MOCHTAR LUBIS)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Review Buku Manusia Indonesia
Mochtar Lubis
Ceramah pada tanggal 6 April 1977
di Taman Ismail Marzuki-Jakarta


uhamka.jpg


DISUSUN OLEH ;
ELIES APRILIANTI HASANAH
1301045176
1M/PGSD

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2013

Manusia Indonesia
Orang Belanda di zaman VOC menganggap manusia Indonesia itu amat khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, amat suka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur, seperti binatang, beestacthing, maha kejam. Anggapan ini mungkin timbul karena sejak mereka tiba di Nusantara, orang Belanda tidak henti – hentinya berperang.
Anggapan umum mereka masih  saja orang Indonesia kini kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi, dan orang ‘inlander’ pada umummnya sedang–sedang saja dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima kasihnya.
Orang Irian mereka katakan onststuimig, suka marah, suka hiruk-pikuk; orang Makasar dan Bugis sangat ulet menahan letih dan serba kekurangan; orang Bali punya semangat yang hidup, brutal, rajin bekerja; orang Ambon dianggap intelligent, cinta kemerdekaan; orang Melayu dianggap bergairah, kejam, tertutup, curiga, jujur, ramah kepada tamu, formil; orang Batak, Aceh, Mandailing, Minang, termasuk yang keras kepala; orang Jawa kecil kecenderungannya untuk cepat naik darah, tinggi hatinya terlalu besar, dan dia lebih suka kehilangan uang dan penghasilan jika merasa dirinya tidak diperlakukan sesuai dengan kedudukannya.
Tahun 1416, seorang Cina yang beragama Islam, bernama Ma Huan, menulis bahwa di pulau Jawa ada tiga macam manusia. Yang pertama, orang Islam yang datang dari sebelah barat dan menetap disana; pakaian dan makanan mereka bersih dan baik. Yang kedua, orang Cina yang melarikan diri dan menetap disana; apa yang mereka makan dan pakai bagus sekali. Banyak diantara mereka yang memeluk agama Islam dan melaksanakan ajaran-ajaran agama itu dengna baik. Dan yang ketiga ialah orang pribumi yang amat buruk dan jorok sekali. Mereka berjalan tanpa rambut disisir, kaki telanjang, dan mereka benar – benar percaya kepada setan – setan. Makanan mereka amat kotor dan jelek, seperti ular, semut, dan berbagai serangga dan cacing yang di panggang sebentar saja diatas api.
Sebuah wajah populer orang Muslim Indonesia, maka manusia Muslim Indonesia itu adalah santri, alim, taat menjalankan ibadah, berani mengatakan yang benar, karena berpegang pada kata Nabi Muhammad SAW yang mengatakan orang beriman itu berani mengatakan yang benar sekalipun kepada raja yang zalim, mengharamkan dengki maupun khianat, mematuhi segala larangan Tuhan dan selalu siap sedia melawan yang bathil.
Penganut-penganut agama Kristen maupun yang lain begitu juga. Ideal manusia Indonesia mereka ialah manusia yang mengabdi pada ajaran agama-agama mereka, yang mengasihi sesama manusia, dan bagi orang Nasrani yang memenuhi Sepuluh Suruhan.
Yang menjadi pertanyaan ialah berapa diantara sekian banyak umat beragama di Indonesia yang bersungguh – sungguh menghayati ajaran – ajaran agama masing-masing, dan membuat ajaran-ajaran agama tersebut sungguh-sungguh jadi pedoman hidup, dasar tingkah laku, dan budi pekerti mereka setiap hari.
Marilah kita lihat apa yang terjadi kini di sekeliling kita. Sebuah warisan dari zaman animism yang dianut nenek moyang kita, yang sampai kini masih banyak sisanya terdapat dalam masyarakat kita ialah masih kuatnya mitos dan mistik pada kita. Kita masih amat suka dan amat mudah mengarang mitos-mitos, baik yang lama maupun membuat yang baru untuk memberi kita kekuatan atau kepercayaan, terutama menghadapi krisis dan serba sukar, ketika kekuatan pikiran rasional kita terasa kurang kuat untuk menghadapinya. Dengan dongeng-dongeng lama dan baru kita seakan-akan mendapat perisai untuk menolak segala bahaya dan ancaman yang kita lihat mendatangi kita.
Mistik, yang populer disebut dengan aliran kebatinan, selalu menjadi tempat orang lari dalam keadaan penuh tekanan, kebimbangan, kewas-wasan dan kekhawatiran, dan orang merasa serba tak menentu, mengambang tak keruan. Hal ini berlaku pada hampir semua orang, baik yang beragama, maupun yang mengaku berpikir secara rasional, telah berpendidikan luas, didalam maupun diluar negeri.
            Menurut para ahli, salah satu cirri kebatinan adalah dorongan hendak mencari kesatuan, yaitu satu kesatuan hakiki yang hendak mencakup semuanya. Selanjutnya, kebatinan melihat manusia dalam dua bagian: batiniah dan lahiriah, yang asalnya dari Illahi. Karena itu orang kebatinan menganggap hidup batiniah adalah kenyataan yang sebenarnya. Lahiriah manusia adalah tubuhnya dengan segala nafsu-nafsunya.
Orang kebatinan selanjutnya menganggap manusia yang ideal adalah yang bekerja keras dalam hidupnya, tanpa mencari keuntungan. Saudara- saudara kita dari Jawa sangat tidak jemu-jemunya memakai ucapan; “sepi ing pamrih rame ing gawe, amemayu ayuning bawana” (bekerja keras tanpa mencari keuntungan untuk diri sendiri, manusia memajukan dunia). Dan bekerja menjalankan sisa hidup sebagai utusan Tuhan dalam dunia ‘tan lami, lamun mantuk” (tak lama, lekas pulang) kepada Tuhan.
Manusia ideal menurut kebatinan Jawa harus pula memiliki ciri-ciri : rela, ridho, bersedia menyerahkan segala miliknya dimana diperlukan, kemudian nerima dengan segala kegirangan hati apapun yang menimpa dirinya, dan yang ketiga, sabar, hidup dan penuh toleransi.
Dan terakhir, manusia ideal Indonesia, yang sering dikemukakkan kini adalah manusia Pancasila, yaitu manusia Indonesia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya dasar tingkah-laku dan budi pekertinya berdasar pada lima sila Pancasila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan Sosial, Kerakyatan, Persatuan Indonesia.
Manusia Pancasila adalah ideal yang kelihatan berambisi untuk mencakup segala cita-cita manusia ideal dari segala rupa ajaran agama, dan aliran kebatinan, dan cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai ideology poitik.
Kaki kita sebelah masih terpancang di budaya animisme kita, dan yang sebelah lagi terpancang dizaman modern sekarang ini dengan segala nilai- nilainya yang berubah amat pesat, dan kita selalu ketinggalan mengikutinya sedikitnya 20 tahun. Dan antara dua kaki kita ini berlapis-lapislah segala rupa pengaruh baik yang lama maupun yang baru, dan demikian silih berganti. Salah satu kelemahan kita, ialah kita tidak berdaya melakukan pilihan, semuanya kita terima, dan kita biarkan hidup bersama, tanpa mengganggu jiwa kita.
Pandangan tentang wujud manusia berbagai macam. Islam menganggap setiap bayi yang dilahirkan adalah ibarat kertas putih bersih, suci, dan agama Kristen memandang manusia dilahirkan dengan membawa dosa, dan dia harus menebus dosanya, dan orang Protestan dan Kalvinis menambahkan bahwa kebajikan kepada Tuhan—antara lain harus dengan bekerja keras, berusaha sebaik mungkin.
Bangsa kita dalam dirinya kelihatan punya bakat artistic yang indah-indah. Perasaannya halus, dan dia merasa dekat dengan alam sekitarnya. Dia hidup dengan alam, dengan pohon, dengan sungai, laut, awan, langit, bintang, bulan, mtahari, malahan juga dengan penuh misteri, yang belum dapat kita lihat dengan pancaindera kita yang bisa. Ini semua amat menyenangkan hati saya melihatnya. Masih adanya semacam misteri dalam hidup kita membuat hidup lebih mengasyikkan dan menarik, daripada jika semua telah dijajah, disortir, dipetakan, dan dikataloguskan.
Bakat artistic besar dan indah yang terkandung dalam dirinya ini yang telah mendorong berbagai pengucapan kreatif besar-besar oleh manusia Indonesia dimana-mana diseluruh Nusantara dimasa lampau; candi-candi, skulptur, ukiran kayu, benda tembaga tenun-an, anyaman, arsitektur, seni emas dan perak, sastra tertulis maupun oral, pantun dan pepatah, sindiran, simbolik, seremoni,tari dan music, filsafah hidup. Inilah, menurut saya kekuatan manusia Indonesia yang terbesar yang merupakan daya kreatif manusia Indonesia selama berabad-abad ini.
Tetapi kita harus mencatat bahwa implus-implus artistic manusia Indonesia menemui perkembangannya yang terbesar adalah dimasa jahiliah ini, didorong lagi dengan masuknya agama Hindu, yang memberikan stimulans baru pada berbagai pengucapan artistic manusia Indonesia di Sumatra, Jawa, dan Bali.
Pengaruh-pengaruh agama yang datang belakangan, seperti Islam dan agama Nasrani amat banyak mengekang pengucapan-pengucapan artistik dalam rangka keagamaan kuno manusia Indonesia, terutama dibidang skulptur.
Juga sikap-sikap manusia Indonesia mengenai seks amat banyak mengalami perubahan atau mendapat “tekanan keras” oleh masuknya agama Islam dan Nasrani. Bagi orang Indonesia dan Polynesia dahulu seks adalah sesuatu yang alamiah, dan bekas dari sikap serupa ini masih terdapat umpanyanya dalam kehidupan seks di berbagai suku di Irian Jaya yang  belum terbawa sepenuhnya ke dalam Islam ataupun Nasrani, dan dalam adat atau kebiasaan pergaulan antara gadis dan jejaka di Mandailing dan tanah Batak yang disebutkan mermaiyam. Malahan hubungan seks pun dibolehkan menjelang perkawinan di beberapa suku dahulu.
Seksualita dan sensualita manusia Indonesia amat jelas tercermin, juga dalam pharmacia Jawa, segala rupa jamu kuat dan sastra ilmu atau teknik seks, di Sulawesi Selatan telah dikembangkan peralatan seks yang unik, sedang di Kalimantan manusia Indonesianya amat membanggakan apa yang mereka namakan pasak bumi. Dan pada beberapa suku bangsa kita dari zaman dulu kemaluan lelaki dilubangi seperti kuing wanita dan dipasang benda berbentuk bintang.

Ciri Kesatu

Salah satu cirri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS atau MUNAFIK. Berpura-pura, lain dimuka, lain dibelakang, merupakan sebuah cirri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
Hal ini dapat kita lihat, umpamanya, kini hipokrisi kita mengenai seks. Di depan umum kita sangat mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka. Majalah dan penerbitan dari luar negeri yang memuat gambar – gambar telanjang, seluruh tubuh atau setengah atau tiga perempat dicat hitam, agar rasa susila manusia Indonesia yang sangat peka itu jangan sampai tersinggung. Tetapi kita membuka tempat mandi uap dan tempat pijit, kita mengatur tempat-tempat prostitusi, melindunginya, menjamin keamanan sang prostitute maupun pelanggan dengan berbagai system resmi, setengah resmi maupun cara swasta.
Manusia Indonesia karena semua ini, juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, akan tetapi begitu turun di Singapura atau Hongkong, atau Paris, New York dan Amsterdam, lantas loncaat ke taksi cari nightclub, dan pesan perempuan pada pelayan atau porter hotel. Dia ikut memaki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor.
Disamping ini kita juga mengatakan, bahwa hukum di negeri kita ini berlaku sama terhadap setiap orang. Prakteknya, kita lihat pencuri kecil masuk penjara, tetapi pencuri besar bebas, atau masuk penjara sebentar saja.
Semakin tertanam dan berakarlah sikap munafik dalam diri manusia Indonesia, semakin diperlakukanlah sikap munafik untuk menyelamatkan diri agar bisa ‘survive’, istilahnya yang populer hari ini di negeri kita. Orang tambah pandai menyembunyikan kata hatinya yang sebenarnya, dan malahan keyakinannya yang sesungguhnya. Orang belajar mengatakan tidak dengan cara-cara yang lain, hingga tidak lagi dapat dikenali. Demikian pula dengan sikap tidak setuju, atau sikap mengkritik dan mencela, semuanya di selubungi, dirumuskan secara lain.
Sampai hari ini, saat ini, dan entah berapa lama lagi, sikap ini masih berlaku dalam diri manusia Indonesia.
Tetapi karena perjuangan kemerdekaan bangsa kita membawa janji-janji demokrasi, memuliakan dan menegakkan martabat dan kebebasan manusia, persamaan manusia, keadilan sosial dan ekonomi, dan sebagainya, maka kini seluruh bangsa kita ikut dalam sandiwara kemunafikan ini.
Sikap ini juga telah mendorong terjadinya pengkhianataan intelektual di negeri kita.

Ciri Kedua

Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. ‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer pula dimulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. Dalam sejarah kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil kedepan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi didalam lingkungan tanggung jawabnya.
Sebaliknya, jika pada sesuatu yang sukses, yang berhasil gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainnya.
Pegawai kecil dan rendah yang tekun bekerja, menahan segala rupa kesukaran hidup, di tempat-tempat yang jauh, jarang sekali mendapat penghargaan yang selayaknya harus mereka terima.

Ciri Ketiga

Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian, dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya.
Yang berkuasa sangat tidak suka mendengar kritik, dan orang lain amat segan untuk melontarkan kritik terhadap atasan.
Bawahan takut mengemukakkan pikiran-pikiran baru yang berlainan dari yang disenangi kaum ‘establishment’, dan tidak berani mengeluarkan kritik atau peringatan-peringatan agar jangan terus salah jalan, tidak berani menyampaikan fakta-fakta yang akan tidak menyenangkan sang bapak, sedang bapak-bapak sudah merasa puas diri adalah salah-tafsir sikap feudal, bahwa kuasa adalah sama dengan bijaksana, pandai, mahatahu segala, mahabenar senantiasa.


Ciri Keempat

Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhyul. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan  dan lambang yang dibuatnya sendiri. Negara kita berdasar pada Pancasila, kata kita semua dan kita pun lalu mengaso, penuh keyakinan dan kepuasaan, bahwa setelah mengucapkannya, maka masyarakat Pancasila itu telah tercipta. Tak ubahnya sebagai seorang tukang sulap yang mengucapkan bim salabim, nah…. Keluar kelinci dari dalam topi.
Sampai kini masyarakat Pancasila itu belum juga tercermin dalam perundang-undangan Negara kita, mengenai pajak kekayaan, pajak warisan, jaminan dan lindungan sosial, jaminan lindungan manusiasakit dan hari tua, undang-undang pendidikan yang menjamin kesempatan belajar dan mengejar pengetahuan yang sama bagi semua orang, miskin maupun kaya, dan sebagainya.
Saya yakin, laci kantor pemerintah, organisasi swasta, dan sebagainya dinegeri kita penuh dengan dokumen dan laporan putusan rapat, putusan panitia, putusan dewan, dan sebagainya yang tidak pernah dilaksanakan. Sekarang kita membikin takhyul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi adalah salah satu takhyul baru, demikian pula perkembangan ekonomi. Model dari Negara-negara industry maju jadi takhyul dan lambang baru, dengan segala jimat atau manteranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP. Dan kita gagal melihat kerusakan-kerusakan pada nilai-nilai, kebahagiaan manusia, kerusakan dan peracunan lingkungan dan sumber alam oleh kemajuan ekonomi dan teknologi yang terjadi pada masyarakat-masyarakat berindustri maju itu.
Jika ini impian kita tentang moderenisasi, maka sebaiknya kita cepat-cepat bangun, arena impian demikian tidak mungkin kita capai, dan malahan jika pun mungkin  akan membawa bencana  bagi  manusia Indonesia sendiri, dan membawa masyarakat kita ke jalan yang buntu, sebagai yang kini sedang di hadapi oleh Negara-negara berindustri maju yang kaya raya.
‘’Makna sebenarnya dari sesuatu kata hanya dapat ditemukan dengan meneliti apa yang dilakukan seseorang dengannya, dan bukan dengan apa yang dikatakanya dengan kata tersebut’’
Apakah manusia Indonesia akan terus jadi manusia mantera, semboyan dan lambang, atau manusia yang bisa berbuat, melaksanakan, menciptakan, dan bukan manusia yang hanya bermain dengan kata-kata saja yang lama-lama jadi hampa dan tiada bermaksa sesuatu apa lagi, baik bagi yang memakainya, maupun bagi yang menerimanya ?

Ciri Kelima

Ciri kelima utama manusia Indonesi adalah artistic. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistic yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warninya.
Bagi saya ciri artistic manusia Indonesia adalah yang paling menarik dan mempesonakan, dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia.

Ciri Keenam

Ciri keenam manusia Indonesia mempunyai watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ‘ survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Maka nya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.
Kegoyahan watak serupa ini merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusia feudal pula. Dia merupakan segi lain dari sikap ABS-untuk menyenangkan atasan dan menyelamatan diri.
Hari ini, untuk menyenangkan hati manusia Indonesia, maka sikap ini diberi nama ‘tepa selira’, tetapi pada hakekatnya tidak lain dia merupakan satu kegoyahan watak, dikedua belah pihak, yang berkuasa dan yang tidak berkuasa.

Ciri lainnya

Manusia itu sekarang tidak hemat, dia bukan ‘economic animal’. Malahan dia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak pernah akan diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.
Yang ideal adalah menggabung sekaligus kedudukan penguasa dengan pengusaha dan jika mungkin juga dengan ilmu pengetahuan. Tiga P itulah ideal utama manusia Indonesia kini. Pola hubungan penguasa dengan penguasa ini sudah ada dalam kebudayaan kita sebelum VOC, dan selama masa VOC telah diperkuat lagi, dengan orang-orang VOC memakai pengusaha Cina terhadap pedagang-pedagang bumi putera.
Generasi muda juga tidak terkecuali, semuanya mau seketika jadi kaya, berpangkat, jadi wartawan ulung, jadi pengarang kelas satu, jadi pelukis terkenal, jadi jago ini dan jago itu, tanpa harus bersusah-payah, menderita dahulu puluhan tahun sebelum mencapai sukses.
Manusia Indonesia kini sudah jadi orang kurang sabar. Ciri lain adalah manusia Indonesia kini tukang menggerutu. Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama seperasaan dengan dia.
Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya.
Gampang senang dan bangga, pada yang hampa-hampa merupakan juga sebagian dari kesenangan kita pada segala rupa lambang dan semboyan yang tidak diiisi. Kata-kata mutiara dalam berbagai suku bangsa Indonesia melimpah-limpah dengan nilai-nilai yang bijaksana, tetapi sayang sekali tidak diamalkan dan dihayati, dahulu maupun sekarang.
Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia-sok. Kalau berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk-harta. Jadi rakus.
Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang mempesonakan kita. Banyak  yang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng kalau sedang musim hipi. Kita sudah terpengaruh oleh apa yang datang dari luar. Bikinan luar negeri lebih menarik dari hasil dalam negeri.
Sifat kita yang lain adalah juga kita cenderung bermalas-malas, akibat alam kita yang begini murah hati ,untuk hidup dan memperhitungkan hidup hanya dari hari ke hari. Kita masih kurang rajin menyimpan untuk hari depan, dan berhitung jauh kedepan. Tidak benar pula orang Indonesia tidak punya pengertian praktis.
Jadi bukannya manusia Indonesia lemah dalam logika, dan tidak bisa mengaitkan antara sebab-akibat, akan tetapi karena data dan informasi tidak benar, maka kelihatan seakan tidak punya logika, dan sebab dan akibat jadi kacau.
Ciri lain dari manusia Indonesia adalah sikap tidak atau kurang peduli dengan nasib orang, selama tidak mengenai dirinya sendiri atau orang yang dekat padanya. Maka orang merasa dirinya sediri atau orang yang dekat dengannya. Maka orang merasa dirinya seakan tidak tersangkut dan berkepentingan. Kita seakan tidak punya hati nurani mengenai nasib orang lain.
Terutama sekali manusia dalam birokrasi Indonesia sebagai sekrup dalam birokrasi itu sangat kelihatan seakan kehilangan hati nurani manusianya.
Tetapi sebaliknya, jika kita kenal pada mereka pribadi mereka kawan, atau saudara, atau dapat timbul saling pengertian maka keadaannya jadi berubah sama sekali.
Akan tetapi jauh  dalam jiwa manusia Indonesia masih hidup juga kemesraan hubungan manusia dengan manusianya seperti dimasa purba itu.
Ciri lain dari manusia Indonesia merupakan modal utama bagi keselamatan bangsa kita adalah kasih ibu dan kasih bapak pada anak-anaknya, dan pula sebaliknya. Ikatan kekeluargaan yang mesra, asal jangan dicampur aduk dengan jabatan, adalah sesuatu nilai manusia Indonesia yang harus kita pertahankan.
Manusia Indonesia pada dasarnya juga berhati lembut dan suka damai.
Pada umumnya dia juga manusia yang sabar, dan kesabarannya yang seakan tak ada batasnya, merupakan kelemahannya pula.
Sementara itu manusia Indonesia memasang wajah yang suka dilihat oleh orang lain,akan tetapi ada pula wajahnya yang disimpannya untuk dirinya sendiri, malah seringkali tidak hendak diakuinya untuk dirinya sendiri.
Manusia dibentuk oleh lingkungannya, masyarakatnya, alam hidupnya dan berbagai nilai-nilai yang didukung masyarakat dan anggota masyarakat, oleh pendidikan dan tauladan yang didapatnya disekolah, di rumah, dunia kawan-kawannya, dan lain-lain sebagainya.
Pembawaan sinkretisme kita antara lain juga disebabkan tepa selira itu atau sebaliknya, yaitu kita mudah menerima hal-hal yang serba bertentangan, dan yang maknanya bisa bermacam karena kita enggan melihat cirri-ciri yang saling bertentangan, akan tetapi cenderung mencari ciri-ciri yang saling komplementer.
Jadi kita tidak memiliki kesanggupan untuk melihat kedepan, tidak punya persepsi yang tajam tentang apa yang terjadi di dunia sekeliling kita, dan kita belum saja mempunyai konsepsi yang tajam tentang apa yang kita kehendaki mengenai tujuan-tujuan bangsa yang hendak kita kejar, selain dari penuangannya dalam semboyan-semboyan yang abstrak, seperti masyarakat Pancasila, manusia Pancasila, dan sebagainya.
Kita masih saja terbelenggu dalam mantera dan semboyan. Kita terpesona ataupun sudah bosan tetapi tidak berdaya menghadapi mantera-mantera seperti rakyat, perjuangan rakyat, semangat revolusi’45, revolusi sosial, kemerdekan, kedaulatan rakyat, kebebasan manusia, kemuliaan manusia, hak-hak asasi manusia, keadilan, kemakmuran rakyat yang merata dan adil, demokrasi Pancasila, persatuan, satu untuk semua, semua untuk satu, kebebasan menyatakan pendapat dan pikiran.
Baiklah kita berani melihat kenyataan, bahwa semangat revolusi’45 kita telah kendor, telah jatuh kedalam proses degenerasi, dan hampir-hampir tak kelihatan lagi bekas-bekasnya kini dalam diri kita, maupun dalam masyarakat kita. Semangat kita yang begitu bersatu dahulu bersama rakyat, besar dan kecil, yang berat sama dipikul, dan ringan sama dijinjing semangat penuh keberanian dan kerelaan untuk berkorban, jika perlu nyawa sendiri pun, demi kemerdekaan bangsa dan tanah air, kesucian dan kejujuran perjuangan, kesediaan melupakan kepentingan diri sendiri, atau kepentingan kelompok, kesediaan melupakan rasa dengki, prasangka yang tidak beralasan, perlombaan hendak berkuasa sendiri, kerakusan hendak mengumpul harta bendak sebanyak mungkin dalam sesingkat mungkin waktu, dan semangat tolong-menolong, bantu-membantu, beri-memberi, semangat bela-membela, semuanya kini telah pudar dan sirna.
Kita tidak punya konsepsi tentang waktu, bahwa waktu itu mengalir pergi dan setelah lewat dia tak lagi dapat ditarik kembali. Bagi kita waktu yang senantiasa ada. Buat apa dikerjakan sekarang, apa yang dapat dikerjakan besok, seakan merupakan sikap kita terhadap waktu. Alon-alon saja, asal kelakon. Kalau tidak bisa sekarang, kan masih ada esok.
Kita harus berani mengakui pada diri kita, bahwa sedikitnya semenjak kedaulatan Indonesia mendapat pengakuan, telah timbul jurang yang semakin besar antara pretense-pretense nasional kita dengan tingkah laku pribadi kita sebagai manusia Indonesia atau sebagai kelompok, dan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat kita.



Dunia /Kini
Dunia kita ini ditandai oleh jurang yang semakin melebar antara masyarakat-masyarakat kaya, dan Negara-negara yang sedang berkembang.
Dalam masyarakat berindustri maju dengan teknologi yang menuntut agar segala rupa proses penghitungan, memproyeksikan kedepan, mengumpul dan menyebar data, perencanaan dan pelaksanaan, pengontrolan, produksi dan sebagainya, harus dilakukan secara paling efisien, paling cepat dan paling ekonomis, maka manusia dianggap merupakan subsistem saja dari seluruh system, dan pula dianggap sebagai subsistem yang paling tidak efektif, dan paling cenderung dapat melakukan berbagai kesalahan dan kealpaan, singkatnya tidak ‘foolproof’ sebagai mesin dn alat elektronika yang dapat dibuat kini. Juga tak manusia meskipun punya daya menyimpan data yang besar, jauh kalah dengan sebuah komputer dalam daya mengorganisasi data-data itu, dalam kecepatan memprosesnya, dan dalam akurasi memantulkannya kembali.
Karena itu menerapkan teknologi satu demi satu untuk memecahkan persoalan satu demi satu pula dalam jangka panjang ternyata bukan saja tidak efisien, tetapi juga tidak efektif, dan malahan pada akhirnya menimbulkan masalah yang lebih besar dan lebih berbahaya serta penuh bencana, dan akhirnya tidak saja meliputi satu tempat, satu kota, atau satu kelompok masyarakat saja, akan tetapi seluruh bumi kita.
Atau maju ekonomi buat kita hendaknya berarti jangan ada manusia Indonesia yang lapar, cukup pakaian dan rumah tinggal, punya kesempatan bersekolah dan bealajar yang formal maupun non-formal, ada kesempatan bekerja yang layak, ada jaminan agar lahir dan mati jangan menjadi suatau yang mewah dan terlalu mahal. Jika tujuan ‘maju ekonomi’ kita adalah di tingkat pertama untuk memenuhi syarat-syarat minuman makanan bergizi cukup, dan pakaian serta perumahan yang memadai, lapangan pekerjaan yang layak, serta kesempatan belajar yang sama bagi setiap orang, maka daftar priorita kita akan jadi lebih ‘sederhana’, modal dan teknologi yang hendak kita kerahkan juga akan berbeda daripada jika kita telah terjadi dinegeri-negeri kaya selama ini.
Bukan saja sumber-sumber dunia tidak cukup untuk setiap orang mencapai tingkat hidup mewah melampaui batas seperti di Amerika itu, akan tetapi untuk mempertahankan tingkat hidup sedemikian pun negeri-negeri kaya dalam masa 20-30 tahun mendatang akan menghadapi jalan buntu.
Pada suatu hari, yang tidak lama lagi masa depan, masyarakat kaya-kaya ini pun akan tiba pada jalan buntu dan mereka akan dihadapkan dengan pilihan; mempertahankan tingkat hidup mewah mereka yang boros itu dengan segala daya upaya, juga dengan memaksakan kemauan mereka pada negeri-negeri yang memiliki sumber-sember bahan mentah yang mereka perlukan, atau mengubah gaya hidup mereka, menyesuaikan diri dan belajar hidup sederhana kembali.
Persoalannya adalah apakah perubahan-perubahan kesadaran dan nilai yang harus terjadi dalam masyarakat-masyarakat kaya ini cukup cepat terjadi, jauh sebelum tempat lampu merah terpasang.
Semakin kita mengikuti arus konsumerisme Negara-negara kaya, semakin kita menggantungkan diri kita pada bantuan mereka baik berupa modal, maupun teknologi mereka, semakin kita menggantungkan keselamatan kita pada alat persenjataan mereka, maka semakin kita tidak berdaya memasang perlindungan terhadap kepribadian kita sebagai bangsa dan manusia, dan semakin kita jatuh lebih tergantung pada mereka.
Jika kita terus begini, tidak mengubah cara-cara kita berpikir dan berbuat, mengubah nilai-nilai yang membimbing kehidupan kita, tingkah laku kita, maka saya sangat khawatir kita akan jadi kuli kasar belaka bagi perusahaan-perusahaan multinasional Jepang, Amerika, Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, dan sebagainya, ditanah air kita sendiri.





Kesimpulan

Kita harus mengembangkan kembali daya pendorong yang telah mengembangkan puncak hasil seni bangsa kita dalam bentuk seni tari dan music, seni pahat dan ukir, arsitektur dari Borobudur dan candi-candi lainnya, seni ornamentik, pandai emas dan perak, barang seni dan tembaga, tenun-menenun, anyaman.
Kita harus membuat budaya dan seni jadi alat pembebas bangsa kita dari cengkraman dan belenggu tata nilai yang selama ini menjadi penghambat dan membuat manusia Indonesia menjadi mengkerut kecil dan kerdil dalam daya inspirasi dan ciptanya.

Jelas betapa banyaknya informasi yang senantiasa harus kita kejar, kita kumpulkan, kita sisteminasi, kita pahami, dan untuk ini kita perlu orang-orang yang berpengetahuan, punya pengertian, punya hati nurani, punya kejujuran, punya dedikasi.

Tidak ada komentar: