PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
Review Buku Manusia
Indonesia
Mochtar Lubis
Ceramah pada
tanggal 6 April 1977
di Taman Ismail
Marzuki-Jakarta

DISUSUN OLEH ;
ELIES APRILIANTI HASANAH
1301045176
1M/PGSD
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2013
Manusia
Indonesia
Orang
Belanda di zaman VOC menganggap manusia Indonesia itu amat khianat, tidak mau
memegang teguh perjanjian, amat suka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur,
seperti binatang, beestacthing, maha
kejam. Anggapan ini mungkin timbul karena sejak mereka tiba di Nusantara, orang
Belanda tidak henti – hentinya berperang.
Anggapan
umum mereka masih saja orang Indonesia
kini kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi, dan orang ‘inlander’ pada
umummnya sedang–sedang saja dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa
kasihan, dan rasa terima kasihnya.
Orang
Irian mereka katakan onststuimig,
suka marah, suka hiruk-pikuk; orang Makasar dan Bugis sangat ulet menahan letih
dan serba kekurangan; orang Bali punya semangat yang hidup, brutal, rajin
bekerja; orang Ambon dianggap intelligent, cinta kemerdekaan; orang Melayu
dianggap bergairah, kejam, tertutup, curiga, jujur, ramah kepada tamu, formil;
orang Batak, Aceh, Mandailing, Minang, termasuk yang keras kepala; orang Jawa
kecil kecenderungannya untuk cepat naik darah, tinggi hatinya terlalu besar,
dan dia lebih suka kehilangan uang dan penghasilan jika merasa dirinya tidak
diperlakukan sesuai dengan kedudukannya.
Tahun
1416, seorang Cina yang beragama Islam, bernama Ma Huan, menulis bahwa di pulau
Jawa ada tiga macam manusia. Yang pertama, orang Islam yang datang dari sebelah
barat dan menetap disana; pakaian dan makanan mereka bersih dan baik. Yang
kedua, orang Cina yang melarikan diri dan menetap disana; apa yang mereka makan
dan pakai bagus sekali. Banyak diantara mereka yang memeluk agama Islam dan
melaksanakan ajaran-ajaran agama itu dengna baik. Dan yang ketiga ialah orang
pribumi yang amat buruk dan jorok sekali. Mereka berjalan tanpa rambut disisir,
kaki telanjang, dan mereka benar – benar percaya kepada setan – setan. Makanan
mereka amat kotor dan jelek, seperti ular, semut, dan berbagai serangga dan
cacing yang di panggang sebentar saja diatas api.
Sebuah
wajah populer orang Muslim Indonesia, maka manusia Muslim Indonesia itu adalah
santri, alim, taat menjalankan ibadah, berani mengatakan yang benar, karena
berpegang pada kata Nabi Muhammad SAW yang mengatakan orang beriman itu berani
mengatakan yang benar sekalipun kepada raja yang zalim, mengharamkan dengki
maupun khianat, mematuhi segala larangan Tuhan dan selalu siap sedia melawan
yang bathil.
Penganut-penganut
agama Kristen maupun yang lain begitu juga. Ideal manusia Indonesia mereka
ialah manusia yang mengabdi pada ajaran agama-agama mereka, yang mengasihi
sesama manusia, dan bagi orang Nasrani yang memenuhi Sepuluh Suruhan.
Yang
menjadi pertanyaan ialah berapa diantara sekian banyak umat beragama di
Indonesia yang bersungguh – sungguh menghayati ajaran – ajaran agama
masing-masing, dan membuat ajaran-ajaran agama tersebut sungguh-sungguh jadi
pedoman hidup, dasar tingkah laku, dan budi pekerti mereka setiap hari.
Marilah
kita lihat apa yang terjadi kini di sekeliling kita. Sebuah warisan dari zaman
animism yang dianut nenek moyang kita, yang sampai kini masih banyak sisanya
terdapat dalam masyarakat kita ialah masih kuatnya mitos dan mistik pada kita.
Kita masih amat suka dan amat mudah mengarang mitos-mitos, baik yang lama
maupun membuat yang baru untuk memberi kita kekuatan atau kepercayaan, terutama
menghadapi krisis dan serba sukar, ketika kekuatan pikiran rasional kita terasa
kurang kuat untuk menghadapinya. Dengan dongeng-dongeng lama dan baru kita
seakan-akan mendapat perisai untuk menolak segala bahaya dan ancaman yang kita
lihat mendatangi kita.
Mistik,
yang populer disebut dengan aliran kebatinan, selalu menjadi tempat orang lari dalam
keadaan penuh tekanan, kebimbangan, kewas-wasan dan kekhawatiran, dan orang
merasa serba tak menentu, mengambang tak keruan. Hal ini berlaku pada hampir
semua orang, baik yang beragama, maupun yang mengaku berpikir secara rasional,
telah berpendidikan luas, didalam maupun diluar negeri.
Menurut para ahli, salah satu cirri
kebatinan adalah dorongan hendak mencari kesatuan, yaitu satu kesatuan hakiki
yang hendak mencakup semuanya. Selanjutnya, kebatinan melihat manusia dalam dua
bagian: batiniah dan lahiriah, yang asalnya dari Illahi. Karena itu orang
kebatinan menganggap hidup batiniah adalah kenyataan yang sebenarnya. Lahiriah
manusia adalah tubuhnya dengan segala nafsu-nafsunya.
Orang
kebatinan selanjutnya menganggap manusia yang ideal adalah yang bekerja keras
dalam hidupnya, tanpa mencari keuntungan. Saudara- saudara kita dari Jawa
sangat tidak jemu-jemunya memakai ucapan; “sepi ing pamrih rame ing gawe,
amemayu ayuning bawana” (bekerja keras tanpa mencari keuntungan untuk diri
sendiri, manusia memajukan dunia). Dan bekerja menjalankan sisa hidup sebagai
utusan Tuhan dalam dunia ‘tan lami, lamun mantuk” (tak lama, lekas pulang)
kepada Tuhan.
Manusia
ideal menurut kebatinan Jawa harus pula memiliki ciri-ciri : rela, ridho,
bersedia menyerahkan segala miliknya dimana diperlukan, kemudian nerima dengan
segala kegirangan hati apapun yang menimpa dirinya, dan yang ketiga, sabar,
hidup dan penuh toleransi.
Dan
terakhir, manusia ideal Indonesia, yang sering dikemukakkan kini adalah manusia
Pancasila, yaitu manusia Indonesia yang menghayati dan membuat dasar dan
pedoman hidupnya dasar tingkah-laku dan budi pekertinya berdasar pada lima sila
Pancasila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan Sosial, Kerakyatan, Persatuan
Indonesia.
Manusia
Pancasila adalah ideal yang kelihatan berambisi untuk mencakup segala cita-cita
manusia ideal dari segala rupa ajaran agama, dan aliran kebatinan, dan
cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai ideology poitik.
Kaki
kita sebelah masih terpancang di budaya animisme kita, dan yang sebelah lagi
terpancang dizaman modern sekarang ini dengan segala nilai- nilainya yang
berubah amat pesat, dan kita selalu ketinggalan mengikutinya sedikitnya 20
tahun. Dan antara dua kaki kita ini berlapis-lapislah segala rupa pengaruh baik
yang lama maupun yang baru, dan demikian silih berganti. Salah satu kelemahan
kita, ialah kita tidak berdaya melakukan pilihan, semuanya kita terima, dan
kita biarkan hidup bersama, tanpa mengganggu jiwa kita.
Pandangan
tentang wujud manusia berbagai macam. Islam menganggap setiap bayi yang
dilahirkan adalah ibarat kertas putih bersih, suci, dan agama Kristen memandang
manusia dilahirkan dengan membawa dosa, dan dia harus menebus dosanya, dan
orang Protestan dan Kalvinis menambahkan bahwa kebajikan kepada Tuhan—antara
lain harus dengan bekerja keras, berusaha sebaik mungkin.
Bangsa
kita dalam dirinya kelihatan punya bakat artistic yang indah-indah. Perasaannya
halus, dan dia merasa dekat dengan alam sekitarnya. Dia hidup dengan alam,
dengan pohon, dengan sungai, laut, awan, langit, bintang, bulan, mtahari,
malahan juga dengan penuh misteri, yang belum dapat kita lihat dengan
pancaindera kita yang bisa. Ini semua amat menyenangkan hati saya melihatnya.
Masih adanya semacam misteri dalam hidup kita membuat hidup lebih mengasyikkan
dan menarik, daripada jika semua telah dijajah, disortir, dipetakan, dan
dikataloguskan.
Bakat
artistic besar dan indah yang terkandung dalam dirinya ini yang telah mendorong
berbagai pengucapan kreatif besar-besar oleh manusia Indonesia dimana-mana
diseluruh Nusantara dimasa lampau; candi-candi, skulptur, ukiran kayu, benda
tembaga tenun-an, anyaman, arsitektur, seni emas dan perak, sastra tertulis
maupun oral, pantun dan pepatah, sindiran, simbolik, seremoni,tari dan music,
filsafah hidup. Inilah, menurut saya kekuatan manusia Indonesia yang terbesar
yang merupakan daya kreatif manusia Indonesia selama berabad-abad ini.
Tetapi
kita harus mencatat bahwa implus-implus artistic manusia Indonesia menemui
perkembangannya yang terbesar adalah dimasa jahiliah ini, didorong lagi dengan
masuknya agama Hindu, yang memberikan stimulans baru pada berbagai pengucapan
artistic manusia Indonesia di Sumatra, Jawa, dan Bali.
Pengaruh-pengaruh
agama yang datang belakangan, seperti Islam dan agama Nasrani amat banyak
mengekang pengucapan-pengucapan artistik dalam rangka keagamaan kuno manusia
Indonesia, terutama dibidang skulptur.
Juga
sikap-sikap manusia Indonesia mengenai seks amat banyak mengalami perubahan
atau mendapat “tekanan keras” oleh masuknya agama Islam dan Nasrani. Bagi orang
Indonesia dan Polynesia dahulu seks adalah sesuatu yang alamiah, dan bekas dari
sikap serupa ini masih terdapat umpanyanya dalam kehidupan seks di berbagai
suku di Irian Jaya yang belum terbawa
sepenuhnya ke dalam Islam ataupun Nasrani, dan dalam adat atau kebiasaan
pergaulan antara gadis dan jejaka di Mandailing dan tanah Batak yang disebutkan
mermaiyam. Malahan hubungan seks pun dibolehkan menjelang perkawinan di beberapa
suku dahulu.
Seksualita
dan sensualita manusia Indonesia amat jelas tercermin, juga dalam pharmacia
Jawa, segala rupa jamu kuat dan sastra ilmu atau teknik seks, di Sulawesi
Selatan telah dikembangkan peralatan seks yang unik, sedang di Kalimantan manusia
Indonesianya amat membanggakan apa yang mereka namakan pasak bumi. Dan pada
beberapa suku bangsa kita dari zaman dulu kemaluan lelaki dilubangi seperti
kuing wanita dan dipasang benda berbentuk bintang.
Ciri Kesatu
Salah
satu cirri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS atau MUNAFIK.
Berpura-pura, lain dimuka, lain dibelakang, merupakan sebuah cirri utama
manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan
dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau
dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan
mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
Hal
ini dapat kita lihat, umpamanya, kini hipokrisi kita mengenai seks. Di depan
umum kita sangat mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka.
Majalah dan penerbitan dari luar negeri yang memuat gambar – gambar telanjang,
seluruh tubuh atau setengah atau tiga perempat dicat hitam, agar rasa susila
manusia Indonesia yang sangat peka itu jangan sampai tersinggung. Tetapi kita
membuka tempat mandi uap dan tempat pijit, kita mengatur tempat-tempat
prostitusi, melindunginya, menjamin keamanan sang prostitute maupun pelanggan
dengan berbagai system resmi, setengah resmi maupun cara swasta.
Manusia
Indonesia karena semua ini, juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya
dia pura-pura alim, akan tetapi begitu turun di Singapura atau Hongkong, atau
Paris, New York dan Amsterdam, lantas loncaat ke taksi cari nightclub, dan pesan
perempuan pada pelayan atau porter hotel. Dia ikut memaki-maki korupsi tetapi
dia sendiri seorang koruptor.
Disamping
ini kita juga mengatakan, bahwa hukum di negeri kita ini berlaku sama terhadap
setiap orang. Prakteknya, kita lihat pencuri kecil masuk penjara, tetapi
pencuri besar bebas, atau masuk penjara sebentar saja.
Semakin
tertanam dan berakarlah sikap munafik dalam diri manusia Indonesia, semakin
diperlakukanlah sikap munafik untuk menyelamatkan diri agar bisa ‘survive’,
istilahnya yang populer hari ini di negeri kita. Orang tambah pandai
menyembunyikan kata hatinya yang sebenarnya, dan malahan keyakinannya yang
sesungguhnya. Orang belajar mengatakan tidak dengan cara-cara yang lain, hingga
tidak lagi dapat dikenali. Demikian pula dengan sikap tidak setuju, atau sikap
mengkritik dan mencela, semuanya di selubungi, dirumuskan secara lain.
Sampai
hari ini, saat ini, dan entah berapa lama lagi, sikap ini masih berlaku dalam
diri manusia Indonesia.
Tetapi
karena perjuangan kemerdekaan bangsa kita membawa janji-janji demokrasi,
memuliakan dan menegakkan martabat dan kebebasan manusia, persamaan manusia,
keadilan sosial dan ekonomi, dan sebagainya, maka kini seluruh bangsa kita ikut
dalam sandiwara kemunafikan ini.
Sikap
ini juga telah mendorong terjadinya pengkhianataan intelektual di negeri kita.
Ciri Kedua
Ciri
kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung
jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.
‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer pula dimulut manusia Indonesia.
Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kesalahan, sesuatu yang tidak
beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya
menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. Dalam sejarah
kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan
moralita untuk tampil kedepan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan
yang terjadi didalam lingkungan tanggung jawabnya.
Sebaliknya,
jika pada sesuatu yang sukses, yang berhasil gilang-gemilang, maka manusia
Indonesia tidak sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk
tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainnya.
Pegawai
kecil dan rendah yang tekun bekerja, menahan segala rupa kesukaran hidup, di
tempat-tempat yang jauh, jarang sekali mendapat penghargaan yang selayaknya
harus mereka terima.
Ciri Ketiga
Ciri
ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu
tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia
Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin
berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme
ini dapat kita lihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam
hubungan-hubungan organisasi kepegawaian, dalam pencalonan istri pembesar
negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis jadi
ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan
dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya.
Yang
berkuasa sangat tidak suka mendengar kritik, dan orang lain amat segan untuk
melontarkan kritik terhadap atasan.
Bawahan
takut mengemukakkan pikiran-pikiran baru yang berlainan dari yang disenangi
kaum ‘establishment’, dan tidak berani mengeluarkan kritik atau
peringatan-peringatan agar jangan terus salah jalan, tidak berani menyampaikan
fakta-fakta yang akan tidak menyenangkan sang bapak, sedang bapak-bapak sudah
merasa puas diri adalah salah-tafsir sikap feudal, bahwa kuasa adalah sama
dengan bijaksana, pandai, mahatahu segala, mahabenar senantiasa.
Ciri Keempat
Ciri
keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhyul.
Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri. Negara
kita berdasar pada Pancasila, kata kita semua dan kita pun lalu mengaso, penuh
keyakinan dan kepuasaan, bahwa setelah mengucapkannya, maka masyarakat
Pancasila itu telah tercipta. Tak ubahnya sebagai seorang tukang sulap yang
mengucapkan bim salabim, nah…. Keluar kelinci dari dalam topi.
Sampai
kini masyarakat Pancasila itu belum juga tercermin dalam perundang-undangan
Negara kita, mengenai pajak kekayaan, pajak warisan, jaminan dan lindungan
sosial, jaminan lindungan manusiasakit dan hari tua, undang-undang pendidikan
yang menjamin kesempatan belajar dan mengejar pengetahuan yang sama bagi semua
orang, miskin maupun kaya, dan sebagainya.
Saya
yakin, laci kantor pemerintah, organisasi swasta, dan sebagainya dinegeri kita
penuh dengan dokumen dan laporan putusan rapat, putusan panitia, putusan dewan,
dan sebagainya yang tidak pernah dilaksanakan. Sekarang kita membikin takhyul
dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi adalah salah satu takhyul baru,
demikian pula perkembangan ekonomi. Model dari Negara-negara industry maju jadi
takhyul dan lambang baru, dengan segala jimat atau manteranya yang dirumuskan
dengan kenaikan GNP atau GDP. Dan kita gagal melihat kerusakan-kerusakan pada
nilai-nilai, kebahagiaan manusia, kerusakan dan peracunan lingkungan dan sumber
alam oleh kemajuan ekonomi dan teknologi yang terjadi pada
masyarakat-masyarakat berindustri maju itu.
Jika
ini impian kita tentang moderenisasi, maka sebaiknya kita cepat-cepat bangun,
arena impian demikian tidak mungkin kita capai, dan malahan jika pun
mungkin akan membawa bencana bagi
manusia Indonesia sendiri, dan membawa masyarakat kita ke jalan yang
buntu, sebagai yang kini sedang di hadapi oleh Negara-negara berindustri maju
yang kaya raya.
‘’Makna
sebenarnya dari sesuatu kata hanya dapat ditemukan dengan meneliti apa yang
dilakukan seseorang dengannya, dan bukan dengan apa yang dikatakanya dengan
kata tersebut’’
Apakah
manusia Indonesia akan terus jadi manusia mantera, semboyan dan lambang, atau
manusia yang bisa berbuat, melaksanakan, menciptakan, dan bukan manusia yang
hanya bermain dengan kata-kata saja yang lama-lama jadi hampa dan tiada
bermaksa sesuatu apa lagi, baik bagi yang memakainya, maupun bagi yang
menerimanya ?
Ciri
Kelima
Ciri
kelima utama manusia Indonesi adalah artistic. Karena sikapnya yang memasang
roh, sukma, jiwa, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka
manusia Indonesia dekat pada alam. Hidup lebih banyak dengan naluri, dengan
perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan
daya artistic yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa
ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya,
variasinya, warna-warninya.
Bagi
saya ciri artistic manusia Indonesia adalah yang paling menarik dan
mempesonakan, dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia
Indonesia.
Ciri Keenam
Ciri
keenam manusia Indonesia mempunyai watak yang lemah. Karakter kurang kuat.
Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya.
Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ‘ survive’ bersedia mengubah
keyakinannya. Maka nya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat
mudah terjadi dengan manusia Indonesia.
Kegoyahan
watak serupa ini merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusia feudal
pula. Dia merupakan segi lain dari sikap ABS-untuk menyenangkan atasan dan
menyelamatan diri.
Hari
ini, untuk menyenangkan hati manusia Indonesia, maka sikap ini diberi nama
‘tepa selira’, tetapi pada hakekatnya tidak lain dia merupakan satu kegoyahan
watak, dikedua belah pihak, yang berkuasa dan yang tidak berkuasa.
Ciri lainnya
Manusia
itu sekarang tidak hemat, dia bukan ‘economic animal’. Malahan dia pandai
mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan
diterimanya, atau yang tidak pernah akan diterimanya. Dia cenderung boros. Dia
senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia
Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya
memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba
mahal.
Yang
ideal adalah menggabung sekaligus kedudukan penguasa dengan pengusaha dan jika
mungkin juga dengan ilmu pengetahuan. Tiga P itulah ideal utama manusia
Indonesia kini. Pola hubungan penguasa dengan penguasa ini sudah ada dalam
kebudayaan kita sebelum VOC, dan selama masa VOC telah diperkuat lagi, dengan
orang-orang VOC memakai pengusaha Cina terhadap pedagang-pedagang bumi putera.
Generasi
muda juga tidak terkecuali, semuanya mau seketika jadi kaya, berpangkat, jadi
wartawan ulung, jadi pengarang kelas satu, jadi pelukis terkenal, jadi jago ini
dan jago itu, tanpa harus bersusah-payah, menderita dahulu puluhan tahun
sebelum mencapai sukses.
Manusia
Indonesia kini sudah jadi orang kurang sabar. Ciri lain adalah manusia
Indonesia kini tukang menggerutu. Tetapi menggerutunya tidak berani secara
terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, antara kawan-kawannya yang sepaham atau
sama seperasaan dengan dia.
Manusia
Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya
lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih
berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya.
Gampang
senang dan bangga, pada yang hampa-hampa merupakan juga sebagian dari kesenangan
kita pada segala rupa lambang dan semboyan yang tidak diiisi. Kata-kata mutiara
dalam berbagai suku bangsa Indonesia melimpah-limpah dengan nilai-nilai yang
bijaksana, tetapi sayang sekali tidak diamalkan dan dihayati, dahulu maupun
sekarang.
Manusia
Indonesia juga dapat dikatakan manusia-sok. Kalau berkuasa mudah mabuk
berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk-harta. Jadi rakus.
Manusia
Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita
tiru kulit-kulit luar yang mempesonakan kita. Banyak yang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian
lagi mode, jadi hipi cengeng kalau sedang musim hipi. Kita sudah terpengaruh
oleh apa yang datang dari luar. Bikinan luar negeri lebih menarik dari hasil
dalam negeri.
Sifat
kita yang lain adalah juga kita cenderung bermalas-malas, akibat alam kita yang
begini murah hati ,untuk hidup dan memperhitungkan hidup hanya dari hari ke
hari. Kita masih kurang rajin menyimpan untuk hari depan, dan berhitung jauh
kedepan. Tidak benar pula orang Indonesia tidak punya pengertian praktis.
Jadi
bukannya manusia Indonesia lemah dalam logika, dan tidak bisa mengaitkan antara
sebab-akibat, akan tetapi karena data dan informasi tidak benar, maka kelihatan
seakan tidak punya logika, dan sebab dan akibat jadi kacau.
Ciri
lain dari manusia Indonesia adalah sikap tidak atau kurang peduli dengan nasib orang,
selama tidak mengenai dirinya sendiri atau orang yang dekat padanya. Maka orang
merasa dirinya sediri atau orang yang dekat dengannya. Maka orang merasa
dirinya seakan tidak tersangkut dan berkepentingan. Kita seakan tidak punya
hati nurani mengenai nasib orang lain.
Terutama
sekali manusia dalam birokrasi Indonesia sebagai sekrup dalam birokrasi itu
sangat kelihatan seakan kehilangan hati nurani manusianya.
Tetapi
sebaliknya, jika kita kenal pada mereka pribadi mereka kawan, atau saudara,
atau dapat timbul saling pengertian maka keadaannya jadi berubah sama sekali.
Akan
tetapi jauh dalam jiwa manusia Indonesia
masih hidup juga kemesraan hubungan manusia dengan manusianya seperti dimasa
purba itu.
Ciri
lain dari manusia Indonesia merupakan modal utama bagi keselamatan bangsa kita
adalah kasih ibu dan kasih bapak pada anak-anaknya, dan pula sebaliknya. Ikatan
kekeluargaan yang mesra, asal jangan dicampur aduk dengan jabatan, adalah
sesuatu nilai manusia Indonesia yang harus kita pertahankan.
Manusia
Indonesia pada dasarnya juga berhati lembut dan suka damai.
Pada
umumnya dia juga manusia yang sabar, dan kesabarannya yang seakan tak ada
batasnya, merupakan kelemahannya pula.
Sementara
itu manusia Indonesia memasang wajah yang suka dilihat oleh orang lain,akan
tetapi ada pula wajahnya yang disimpannya untuk dirinya sendiri, malah
seringkali tidak hendak diakuinya untuk dirinya sendiri.
Manusia
dibentuk oleh lingkungannya, masyarakatnya, alam hidupnya dan berbagai
nilai-nilai yang didukung masyarakat dan anggota masyarakat, oleh pendidikan
dan tauladan yang didapatnya disekolah, di rumah, dunia kawan-kawannya, dan
lain-lain sebagainya.
Pembawaan
sinkretisme kita antara lain juga disebabkan tepa selira itu atau sebaliknya,
yaitu kita mudah menerima hal-hal yang serba bertentangan, dan yang maknanya
bisa bermacam karena kita enggan melihat cirri-ciri yang saling bertentangan, akan
tetapi cenderung mencari ciri-ciri yang saling komplementer.
Jadi
kita tidak memiliki kesanggupan untuk melihat kedepan, tidak punya persepsi
yang tajam tentang apa yang terjadi di dunia sekeliling kita, dan kita belum
saja mempunyai konsepsi yang tajam tentang apa yang kita kehendaki mengenai
tujuan-tujuan bangsa yang hendak kita kejar, selain dari penuangannya dalam
semboyan-semboyan yang abstrak, seperti masyarakat Pancasila, manusia
Pancasila, dan sebagainya.
Kita
masih saja terbelenggu dalam mantera dan semboyan. Kita terpesona ataupun sudah
bosan tetapi tidak berdaya menghadapi mantera-mantera seperti rakyat,
perjuangan rakyat, semangat revolusi’45, revolusi sosial, kemerdekan,
kedaulatan rakyat, kebebasan manusia, kemuliaan manusia, hak-hak asasi manusia,
keadilan, kemakmuran rakyat yang merata dan adil, demokrasi Pancasila,
persatuan, satu untuk semua, semua untuk satu, kebebasan menyatakan pendapat
dan pikiran.
Baiklah
kita berani melihat kenyataan, bahwa semangat revolusi’45 kita telah kendor,
telah jatuh kedalam proses degenerasi, dan hampir-hampir tak kelihatan lagi
bekas-bekasnya kini dalam diri kita, maupun dalam masyarakat kita. Semangat
kita yang begitu bersatu dahulu bersama rakyat, besar dan kecil, yang berat
sama dipikul, dan ringan sama dijinjing semangat penuh keberanian dan kerelaan
untuk berkorban, jika perlu nyawa sendiri pun, demi kemerdekaan bangsa dan
tanah air, kesucian dan kejujuran perjuangan, kesediaan melupakan kepentingan diri
sendiri, atau kepentingan kelompok, kesediaan melupakan rasa dengki, prasangka
yang tidak beralasan, perlombaan hendak berkuasa sendiri, kerakusan hendak
mengumpul harta bendak sebanyak mungkin dalam sesingkat mungkin waktu, dan
semangat tolong-menolong, bantu-membantu, beri-memberi, semangat bela-membela,
semuanya kini telah pudar dan sirna.
Kita
tidak punya konsepsi tentang waktu, bahwa waktu itu mengalir pergi dan setelah
lewat dia tak lagi dapat ditarik kembali. Bagi kita waktu yang senantiasa ada.
Buat apa dikerjakan sekarang, apa yang dapat dikerjakan besok, seakan merupakan
sikap kita terhadap waktu. Alon-alon saja, asal kelakon. Kalau tidak bisa
sekarang, kan masih ada esok.
Kita
harus berani mengakui pada diri kita, bahwa sedikitnya semenjak kedaulatan
Indonesia mendapat pengakuan, telah timbul jurang yang semakin besar antara
pretense-pretense nasional kita dengan tingkah laku pribadi kita sebagai
manusia Indonesia atau sebagai kelompok, dan kenyataan-kenyataan dalam
masyarakat kita.
Dunia /Kini
Dunia
kita ini ditandai oleh jurang yang semakin melebar antara masyarakat-masyarakat
kaya, dan Negara-negara yang sedang berkembang.
Dalam
masyarakat berindustri maju dengan teknologi yang menuntut agar segala rupa
proses penghitungan, memproyeksikan kedepan, mengumpul dan menyebar data,
perencanaan dan pelaksanaan, pengontrolan, produksi dan sebagainya, harus
dilakukan secara paling efisien, paling cepat dan paling ekonomis, maka manusia
dianggap merupakan subsistem saja dari seluruh system, dan pula dianggap
sebagai subsistem yang paling tidak efektif, dan paling cenderung dapat
melakukan berbagai kesalahan dan kealpaan, singkatnya tidak ‘foolproof’ sebagai
mesin dn alat elektronika yang dapat dibuat kini. Juga tak manusia meskipun
punya daya menyimpan data yang besar, jauh kalah dengan sebuah komputer dalam
daya mengorganisasi data-data itu, dalam kecepatan memprosesnya, dan dalam
akurasi memantulkannya kembali.
Karena
itu menerapkan teknologi satu demi satu untuk memecahkan persoalan satu demi
satu pula dalam jangka panjang ternyata bukan saja tidak efisien, tetapi juga
tidak efektif, dan malahan pada akhirnya menimbulkan masalah yang lebih besar
dan lebih berbahaya serta penuh bencana, dan akhirnya tidak saja meliputi satu
tempat, satu kota, atau satu kelompok masyarakat saja, akan tetapi seluruh bumi
kita.
Atau
maju ekonomi buat kita hendaknya berarti jangan ada manusia Indonesia yang
lapar, cukup pakaian dan rumah tinggal, punya kesempatan bersekolah dan
bealajar yang formal maupun non-formal, ada kesempatan bekerja yang layak, ada
jaminan agar lahir dan mati jangan menjadi suatau yang mewah dan terlalu mahal.
Jika tujuan ‘maju ekonomi’ kita adalah di tingkat pertama untuk memenuhi
syarat-syarat minuman makanan bergizi cukup, dan pakaian serta perumahan yang
memadai, lapangan pekerjaan yang layak, serta kesempatan belajar yang sama bagi
setiap orang, maka daftar priorita kita akan jadi lebih ‘sederhana’, modal dan
teknologi yang hendak kita kerahkan juga akan berbeda daripada jika kita telah
terjadi dinegeri-negeri kaya selama ini.
Bukan
saja sumber-sumber dunia tidak cukup untuk setiap orang mencapai tingkat hidup
mewah melampaui batas seperti di Amerika itu, akan tetapi untuk mempertahankan
tingkat hidup sedemikian pun negeri-negeri kaya dalam masa 20-30 tahun
mendatang akan menghadapi jalan buntu.
Pada
suatu hari, yang tidak lama lagi masa depan, masyarakat kaya-kaya ini pun akan
tiba pada jalan buntu dan mereka akan dihadapkan dengan pilihan; mempertahankan
tingkat hidup mewah mereka yang boros itu dengan segala daya upaya, juga dengan
memaksakan kemauan mereka pada negeri-negeri yang memiliki sumber-sember bahan
mentah yang mereka perlukan, atau mengubah gaya hidup mereka, menyesuaikan diri
dan belajar hidup sederhana kembali.
Persoalannya
adalah apakah perubahan-perubahan kesadaran dan nilai yang harus terjadi dalam
masyarakat-masyarakat kaya ini cukup cepat terjadi, jauh sebelum tempat lampu
merah terpasang.
Semakin
kita mengikuti arus konsumerisme Negara-negara kaya, semakin kita
menggantungkan diri kita pada bantuan mereka baik berupa modal, maupun
teknologi mereka, semakin kita menggantungkan keselamatan kita pada alat
persenjataan mereka, maka semakin kita tidak berdaya memasang perlindungan
terhadap kepribadian kita sebagai bangsa dan manusia, dan semakin kita jatuh
lebih tergantung pada mereka.
Jika
kita terus begini, tidak mengubah cara-cara kita berpikir dan berbuat, mengubah
nilai-nilai yang membimbing kehidupan kita, tingkah laku kita, maka saya sangat
khawatir kita akan jadi kuli kasar belaka bagi perusahaan-perusahaan
multinasional Jepang, Amerika, Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, dan
sebagainya, ditanah air kita sendiri.
Kesimpulan
Kita
harus mengembangkan kembali daya pendorong yang telah mengembangkan puncak
hasil seni bangsa kita dalam bentuk seni tari dan music, seni pahat dan ukir,
arsitektur dari Borobudur dan candi-candi lainnya, seni ornamentik, pandai emas
dan perak, barang seni dan tembaga, tenun-menenun, anyaman.
Kita
harus membuat budaya dan seni jadi alat pembebas bangsa kita dari cengkraman
dan belenggu tata nilai yang selama ini menjadi penghambat dan membuat manusia
Indonesia menjadi mengkerut kecil dan kerdil dalam daya inspirasi dan ciptanya.
Jelas
betapa banyaknya informasi yang senantiasa harus kita kejar, kita kumpulkan,
kita sisteminasi, kita pahami, dan untuk ini kita perlu orang-orang yang
berpengetahuan, punya pengertian, punya hati nurani, punya kejujuran, punya
dedikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar